Bismillah ayat fatihah atau bukan?

October 17th, 2009 by salsabilayugo Leave a reply »

Pertanyaan

ustad yg saya hormati apakah bismillah dalam fatihah sebagian dari ayat fatihah atau bukan? soalnya banyak orang yg ngga baca bismillah dalam sholat langsung alhamdulillah sebagai ayat pertama tapi jika saya liat dalam alqur’annya sendiri fatihah adalah ayat pertama dalam qur’an?

hamba allah

Jawaban

Al Ustadz : H. Taufik Hamim Effendi, Lc., MA.

Alhamdulillah, washshalatu wassalamu ‘ala Rasulillah wa ba’du

Saudaraku Hamba Allah yang saya cintai karena Allah. Permasalahan yang anda tanyakan adalah suatu masalah yang sebenarnya harus difahami oleh setiap muslim, sehingga apabila dia mendapati sang imam atau saudaranya ketika menjadi imam shalat membaca surat al-Fatihah tanpa membaca Basmalah (bismillahirrahmanirrahim)  atau tidak menjaharkan (mengeraskan suara) bacaan basmalah, maka dia tidak akan menvonis atau mengatakan sang imam beda aliran, ajaran atau bahkan yang lebih parah beda aqidah, na’udzu billah.

Para ulama fikih sejak dahulu telah berbeda pandangan dalam menyikapi hal tersebut. Apakah basmalah satu ayat tersendiri yang ditulis setiap awal surat dalam Al-Qur’an atau dia hanya ditulis di awal surat Al-Fatihah saja?

Pertama kali yang harus kita ketahui adalah bahwa para ulama telah bersepakat bahwa basmalah adalah satu ayat yang tercantum di dalam surat Al-Naml.

Para ulama qira’ah Makkah dan Kufah menegaskan bahwa basmalah adalah bagian dari surat Al-Fatihah dan juga surat lainnya.

Namun ulama Qiraah Madinah, Bashrah dan Syam, menegaskan bahwa basmalah tidak termasuk ayat, baik pada surat Al-Fatihah maupun surat-surat lainnya, mereka mengatakan bahwa basmalah ditulis untuk mendapatkan keberkahan dan sebagai pembatas antara satu surat dengan surat lainnya.

Mereka bersandarkan kepada hadits yang diriwayatkan oleh Abu Daud dengan sanad yang shahih, dari Ibnu Abbas bahwa Rasulullah SAW adalah tidak mengetahui pembatas surat hingga turunlah kepadanya bismillahirrahmanirrahim.

Basmalah di baca jahar?

Telah kami sebutkan di atas, bahwa telah terjadi perbedaan pendapat antara para ulama tentang basmalah, apakah dia termasuk ayat di setiap surat atau bukan?

Sebagaimana terjadi perbedaan tersebut, terjadi pula perbedaan pendapat mereka, apakah basmalah dibaca jahr (keras) atau sir (Pelan)

Bagi mereka yang mengatak bahwa basmalah adalah ayat di setiap surat (selain surat Al-Taubah), mereka berbeda pendapat, apakah menjaharkan basmalah atau tidak, ada dua pendapat :

Pertama : Pendapat untuk tidak dijaharkan (dibaca pelan) ketika membaca surat Al-Fatihah. Pendapat ini didukung oleh para ulama diataranya Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Al-Tausri, Umar, Ali, Ibnu Mas’ud, Imam Ahmad bin Hambal, Al-Auza’i.

Mereka bersandarkan diantaranya dengan beberapa hadits berikut :

1-    Dari Abu Hurairah, bahwasanya di shalat dan menjaharkan bacaan basmalah. Setelah selesai shalat dia pun berkata : “sesungguhnya shalatku lebih mirip dengan shalat Rasulullah SAW bila dibandingkan dengan shalat kalian”. (HR. Nasa’I dalam Sunannya, Ibnu Khuzaimah dan Ibnu Hibban dalam shahihnya, dan Hakim dalam  Al-Mustadrak. Di shaihkan oleh Al-Daraquthnu, Al-Baihaqi dan lainya)

2-    Dari Ibnu Abbas, adalah Rasulullah SAW menjaharkan bacaan “bismillahirrahmanirrahim” (HR. Hakim dalam Al-Mustadrak, dan dia berkata : Shahih)

Kedua : Pendapat untuk menjaharkan ketika membaca Al-fatihah. Pendapat ini didukung oleh sebagian ulama madinah diantara Ibnu Umar, Ibnu Syihab juga di dukung oleh Imam Syafi’I, Imam Ahmad bin Hanbal.

Mereka bersandarkan diantaranya dengan beberapa hadits berikut :

1-    Aisyah berkata : “adalah Rasulullah SAW membuka shalatnya dengan bertakbir dan bacaan “alhamdulillahi Rabbil ‘alamin” (HR. Muslim)

2-    Anas berkata : “ Aku pernah shalat (menjadi makmum) di belakang Rasulullah SAW, Abu Bakar,  Umar dan Utsman. Mereka memulainya dengan “Alhamdulillahi Rabbil ‘lamin”. (HR. Bukhari dan Muslim)

3-    Dalam riwayat lain disebutkan bahwa Anas berkata : “ Aku shalat bersama Rasulullah SAW, Abu Bakar, Umar, Utsman. Dan aku tidak mendengar seorang pun dari mereka membaca bismillahirrahmanirrahim”.

Sebenarnya masalah ini adalah masalah ijtihadiyah bukan masalah yang qath’iyah (yang pasti kebenarannya), sebagaimana yang dikira oleh banyak orang yang tidak memiliki kedalaman masalah fikih ikhtilaf, sehingga membuat mereka sampai pada tingkat mengkafirkan kaum muslimin lainnya yang tidak sejalan dengan pendapat para imam madzhabnya.

Menurut hemat kami, hendaknya sebagai seorang muslim, apalagi dia seorang aktifis dakwah, maka yang harus dikedepankan adalah sikap toleransi terhadap perbedaan yang terjadi ditengah masyarakat. Dalam menjalankan ibadah yang masih bersifat furu’iyah, jangan sampai yang dikedepankan hanya ingin tampil beda dan ingin menunjukkan seakan dia lebih nyunnah dalam beribadah dan meresa lebih tahu, padahal di sana masih banyak pendapat ulama lain yang  berbeda pandangan dan memiliki dalil dan sandaran yang tidak kalah kuatnya. Kalau sikap toleransi tidak dikedepankan maka akan dapat menimbulkan keresahan dikalangan umat ini, yang tentunya ini tidak kita inginkan.

Maka hendaknya kita juga harus bersikap lebih dewasa lagi. Dan menurut kami tidak ada salahnya kalau ada  seseorang yang cenderung kepada pendapat tidak menjaharkan bacaan basmalah untuk menjaharkannya ketika dia menjadi iman shalat yang makmumnya mayoritas menjaharkan bacaan basmalah atau mungkin sebaliknya. Semoga sikap dewasa toleransi antar kaum muslimin dapat mempererat ukhuwah Islamiyah. Aamiin

Wallahu ‘alam bishshawab

Sumber : http://warnaislam.com

Incoming search terms for the article:

artikel yang berhubungan


1 comment

  1. Ali Said says:

    Assalaamu’alaikum ww.

    Maaf bila saya salah membaca jawaban Ustad di atas. Sepertinya ada kekeliruan. Landasan 2 hadist pertama seharusnya untuk Pendapat Kedua, sedangkan 3 hadist di bawahnya untuk landasan Pendapat Pertama. (Tertukar)

    Wassalaamu’alaikum ww

Leave a Reply